Salimi Ahmad Penyair dan Pelukis Indonesia


Penyair dan pelukis Salimi Ahmad saat menghadiri Temu Sastrawan Indonesia, Samping kanan berpeci bersama penyair Wowok Hesti Prabowo. 
(Fotho Rg Bagus Warsono)

Salimi Ahmad, lahir di jakarta, 22 mei 1956, adalah seorang penyair yang namanya tak asing lagi di dunia seni lukis Indonesia . Pelukis ini adalah juga seorang penyair yang diperhitungkan secara nasional. Baginya menulis puisi adalah keseimbangan profesinya, namun ia dapat memetik sekaligus predikat pelukis dan penyair yang berhasil. Menurutnya ia  tak pernah benar-benar bisa melepaskan diri dari menulis puisi, sebab karena menurutnya dengan menulis puisi ia dapat menyeimbangkan rasa gelisah dalam hati dan pikirannya. Demikian ketika berbincang dengan ayokesekolah.com di acara Tifa Nusantara 27-29 Agustus 2015 di Cikupa Tangerang.

Salimi Ahmad meniti pendidikan mulai  SD dan SMP diselesaikan di Jakarta. Dia pernah masuk sekolah seni rupa indonesia (SSRI) di Yogya pada tahun 1973. hanya kurang dari 1 tahun dia pindah kejakarta lagi untuk melanjutkan pendidikannya. ia menyelesaikan SMA pada tahun 1976.

Latar sebagai pelukis dan sekaligus penyair didapat dari ketika tinggal di  Yogyakarta, Bergabung di persada studi klub (PSK) dibawah asuhan Umbu Landu Paranggi, teater asuhan Niki Kosasih. Kemudian di  Jakarta, ia mendirikan Bengkel pelukis Jakarta bersama  Mas Sulebar Sukarman, dan kerap mengikuti berbagai kegiatan pameran lukisan bersama.

Ratna Ayu Budhiarti

Ratna Ayu Budhiarti (lahir di Cianjur, Jawa Barat, 9 Februari 1981; umur 34 tahun) adalah seniman berkebangsaan Indonesia. Namanya dikenal melalui karya-karyanya berupa cerita pendek, puisi, dan artikel yang dipublikasikan di berbagai media massa dan buku kumpulan puisi. Ratna merupakan salah satu peserta dalam Ubud Writer and Reader Festival tahun 2012, dan mewakili provinsi Jawa Barat, dalam perhelatan Temu Sastra Nusantara Mitra Praja Utama (MPU) 2013
Ratna Ayu Budhiarti lahir di Cianjur, 9 Februari 1981. Menyelesaikan pendidikannya di Fakultas Pertanian Universitas Siliwangi. Sejak usia muda, dia sudah mengakrabi dunia kesenian, utamanya sastra dan puisi. Karya-karyanya dipublikasikan di sejumlah media cetak antara lain majalah Femina, majalah Good Housekeeping Indonesia, majalah Preanger Slide Story, HU, Pikiran Rakyat, Media Indonesia, Suara Karya, Bali Post, SK. Priangan, tabloid Qalby, majalah Kandaga, koran Mingguan Pelajar, majalah Sahabat Pena, dan Puitika. Kemampuannya di bidang sastra menjadikan dirinya sering diundang untuk tampil baca puisi, menjadi pembcara dalam pelatihan/motivasi menulis di beberapa komunitas dan sekolah di berbagai kota.
Tahun 2005 Ratna memenangi lomba menulis puisi bertema cinta yang diselenggarakan oleh Forum Lingkar Pena Bandung. Setelah itu, namanya tercatat dalam buku Profil Perempuan Pengarang dan Penulis Indonesia, tahun (Kosakata Kita, 2012). Dia juga pernah menjadi salah satu peserta dalam Festival Penyair Internasional, mewakili Indonesia, (2012). Dalam perhelatan Ubud Writers and Readers Festival, 2012, dia ditunjuk menjadi salah satu pembicara. Tahun 2013 Ratna diundang dalam Temu Sastra Nusantara Mitra Praja Utama (MPU) VIII, mewakili provinsi Jawa Barat dan Temu Karya Sastrawan Nusantara. Tahun itu pula, dia kembali menerima penghargaan Wanita dan Budaya dari Majalah Good Housekeeping Indonesia bersama sembilan wanita lainnya. Dalam Festival Sastra Solo 2014, Ratna Ayu Budhiarti diundang sebagai pembicara. Selebihnya, dia merupakan pelatih, motivator menulis di beberapa komunitas dan sekolah di sejumlah kota.
karya:Kumpulan puisi Dusta Cinta (Gaza Publishing, 2008)
Kumpulan Puisi Surat Menjelang Lepas Lajang (Leutikaprio, 2011)
Kumpulan cerpen The Untold Stories Cerita Kita: Aku, Kamu, dan Mereka (Nulis Buku, 2012)
Kumpulan puisi Dada yang Terbelah (Metafor Production, 2012)
Kumpulan puisi Bintang di Alir Hujan (Metafor Production, 2014)

Muhammad Subhan

Muhammad Subhan.JPGMuhammad Subhan (lahir di Medan, Sumatera Utara, 3 Desember 1980; umur 34 tahun)[1] adalah seorang sastrawan dan penulis Indonesia.[2]

Ia merupakan motivator kepenulisan dan pendiri serta ketua Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Bersama Aliya Nurlela ia mendirikan FAM Indonesia pada tanggal 2 Maret 2012, dan berkantor pusat di Pare, Kediri, Jawa Timur.[3] Sebelumnya Muhammad Subhan juga dikenal sebagai seorang jurnalis.[4][5]

Cerpen, puisi, esai, dan artikelnya telah diterbitkan di sejumlah media, di antaranya Serambi Indonesia (Banda Aceh), Waspada (Medan), Haluan, Singgalang, Padang Ekspres, Koran Padang, Metro Andalas (Padang), Rakyat Sumbar (Bukittinggi), Horison, Sabili (Jakarta), Kaltim Post (Banjarmasin), dan lainnya.

Muhammad Subhan juga sering diundang menjadi juri dalam lomba-lomba kepenulisan tingkat lokal dan nasional serta tampil sebagai pembicara di berbagai forum dan pelatihan/seminar tentang kepenulisan/jurnalistik di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi di Indonesia.
Muhammad Subhan berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya seorang Aceh dari Sigli, namun lama tinggal di Lhokseumawe dan Kruenggeukueh, Aceh Utara bekerja sebagai pekerja kasar, sedangkan ibunya seorang Minang asal Kajai, Pasaman Barat seorang buruh cuci di rumah-rumah orang.[1]

Setelah ayahnya meninggal dunia pada 15 Maret 2000, kehidupannya pun semakin 'susah' karena tidak lama setelah itu ibunya juga mulai sakit-sakitan (rematik dan asam urat akut). Sebagai anak tertua dari empat bersaudara, ia kemudian mengajak ibunya pulang kampung ke Kajai, Pasaman Barat. Sedangkan dirinya sendiri mencari nafkah di kota Padang dengan menjadi salesman barang kebutuhan harian sampai berjualan majalah. Di Padang itu pula, ia mengabdikan diri sebagai gharin (marbot; pengurus) musala di kawasan Air Tawar Barat, dekat kampus Universitas Negeri Padang (UNP). Pengabdian sebagai gharin dilakoninya sejak tahun 2000 hingga 2004

Pendidikan sampai kelas dua SD ia lalui di kota Medan, Sumatera Utara. Setelah itu ia pindah ke Lhokseumawe seiring kepindahan orangtuanya. SMP dan SMA kemudian ia selesaikan di Kruenggeukueh, Aceh Utara (SMP Negeri 1 Dewantara dan SMU Negeri 2 Lhokseumawe). Ia pernah kuliah di Jurusan Manajemen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Perdagangan (STIE-P) Padang dan Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Yayasan Kebangkitan Islam (YKI) Padang. Namun, di dua kampus ini ia hanya mampu menyelesaikan beberapa semester saja karena kesibukan pekerjaannya sebagai jurnalis sehingga menyita waktu kuliahnya. Tekad yang kuat untuk belajar akhirnya membuahkan hasil setelah ia dinyatakan lulus sebagai sarjana di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Imam Bonjol Padangpanjang, Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI).
Buku puisi tunggal
Sajak-sajak Dibuang Sayang (2014)

Rg Bagus Warsono


Rg Bagus Warsono nama lainnya Agus Warsono  atau Bagus Warsono lahir di Tegal, Jawa Tengah, 29 Agustus 1965,  umur 49 tahun adalah sastrawan Indonesia . Menulis sejak bangku sekolah berupa puisi di Pikiran Rakyat Edisi Cirebon, dan sejak tahun 1985 menulis puisi, cerpen, cerpen anak dan artikel di berbagai media massa di antara lain majalah Gentra Pramuka, Bekal Pembina, Mingguan Pelajar, Pikiran Rakyat, Suara Karya, Binakop, Bhinneka Karya Winaya, Suara Guru, dan Suara Daerah. Buku puisinya antara lain Bunyikan Aksara Hatimu 1992 diterbitkan Sibuku Media  2014 {1} ; Jangan Jadi sastrawan , Indhi Publishing 2014 {2}; Jakarta Tak Mau Pindah diterbitkan  Indhie publishing, Jakarta 2014 {3}; Si Bung, Leutikaprio , Yogyakarta 2014 {3}; Surau Kampung Gelatik  diterbitkan  Sibuku Media , Jogyakarta 2015 {1} dan Mas Karebet , Sibuku Media , Yogyakarta 2015 {1}. Selain sebagai penyair, dia mendirikan Himpunan Masyarakat Gemar Membaca (HMGM). Sebagai seorang sastrawan ia dikenal  juga seorang pelukis {4}yang tinggal di sanggar sastra dan lukis Meronte Jaring di Indramayu Jawa Barat Indonesia

Kehidupan pribadi
Setamat SPG melanjutkan ke UTPGSD , kemudian ke STAI Salahudin di Jakarta, dan Mengambil Magister STIA Yappan Jakarta. Sambil menjadi Guru , dia menggeluti profesi sebagai jurnalis sejak tahun (1992), reporter Majalah Gentra Pramuka dan Hamdalah (1999), dan pengamat sinetron.
Kini, Rg Bagus Warsono adalah pengasuh sanggar sastra Meronte jaring di Indramayu yang didirikan 2011 dan coordinator Himpunan Masyarakat Gemar membaca sejak tahun 1992.
Sejak tahun 2014 dia adalah penggagas antologi Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia
yang dikelolanya sejak 2013 untuk mendokumentasikan karya-karya penyair terkini dari seluruh Indonesia yang pada Lumbung Pusi sastrawan Indonesia 3 diterbitkan oleh Sibuku Media Jogyakarta, 2015
Aktif sebagai penggagas, kurator, editor, sekaligus ikut membidani terbitnya buku
Saksi Ibu Melihat reformasi 2012.

Karya Pribadi:
Bunyikan Aksara Hatimu ( Sibuku, Jogyakarta 2014)
Jangan Jadi sastrawan (Indie Publishing, Jakarta 2014)
Jakarta Tak Mau Pindah (Indie Publishing, Jakarta 2014)
Si Bung (Leutikaprio , Jogyakarta 2014)
Mas Karebet ( Sibuku, Jogyakarta 2015)
Surau Kampung Gelatik ( Sibuku, Jogyakarta 2015)

Karya bersama :
Puisi Menolak Korupsi
Memo untuk Presiden
Tifa Nusantara 1
Tifa Nusantara 2

Kiprah kesenian:
Menyelenggarakan berbagai Lomba Baca / cipata Puisi , dan mengasuh remaja belajar sastra di sanggar Meronte Jaring , Indramayu Jawa Barat  , dan mengggas terbitnya dokumentasi puisi sastrawan Indonesia yang diberi nama Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia.

Penghargaan :
Penulis Cerita Anak Depdikbud 2004

Keluarga:
Istri : Rofiah
Anak : Puji
            Acil
Web : www.ayokesekolah.com

Fatin Hamama

Fatin Hamama - CopyFatin HamamaLahir di Padang Panjang, Sumatera Barat, 15 November 1967. Ia merupakan penyair perempuan yang kerapkali menulis puisi-puisi relijius. Mulai menyair sejak di bangku kelas III SD. 'Ketika duduk di bangku SD sampai Aliyah, ia berkali-kali memenangkan lomba cipta dan baca puisi. Ia kemudian menjadi anak binaan sastrawan Leon Agusta.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir (1987-1995), ia kembali ke Indonesia. Di tanah air ia aktif mengikuti forum-forum sastra, termasuk menjadi pengurus Komunitas Sastra Indonesia (KSI). Forum sastra yang pernah di hadirinya antara lain Pertemuan Sastrawan Nusantara, Malaysia (1999), Dialog Utara VIII di Thailand (1999) dan Debat Sastra Akhir Abad di LKBN Antara (1999).

Beberapakali kali ia tampil pada pembacaan puisi di tanah air maupun luar negeri. Di tanah air, ia pernah tampil bersama sejumlah penyair tanah air dalam sejumlah acara pembacaan puisi, sedangkan di luar negeri, ia pernah tampil pada Festival penyair se-Dunia di Seoul, (Korea Selatan, 1997), Sydney (Australia) dan Kuala Lumpur (Malaysia).

Karya-karyanya pernah dimuat di sejumlah media cetak antara lain, Semangat, Haluan dan Singgalang. Ia juga meluncurkan buku kumpulan puisinya yang berjudul Papyrus, yang merupakan ungkapan kecintaannya kepada Mesir sebagai ‘ummud dunya’ (Ibu Dunia). Baginya puisi adalah ungkapan hati sebagai sarana mengekspresikan kedekatan pada Tuhan. Kegemarannya membaca sajak, ibu dari dua anak yang kerap wara-wiri ke luar negeri karena mengikuti suami yang seorang berkarier sebagai diplomat ini, juga disalurkan lewat kegiatan menjadi dubber film-film India untuk beberapa stasiun TV swasta, serta drama radio Butir-butir Pasir di Laut.

Nana Riskhi Susanti


Nana Riskhi Susanti (lahir di Tegal, Jawa Tengah, 2 Oktober 1990; umur 24 tahun) adalah salah seorang sastrawati Indonesia yang mengawali debutnya di usia muda. Sejak duduk di SMA Nana sudah menulis puisi, cerpen, dan artikel seni-budaya. Berbagai penghargaan juga pernah dia terima, dari tingkat daerah hingga tingkat Asia Tenggara. Nana menyelesaikan kesarjanaannya di Unnes pada tahun 2011, mengambil jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dengan predikat cum laude (index prestasi 3,88)

Selama perkuliahan, Nana aktif bergiat di bidang kesusastraan melalui pertunjukan seni baca puisi, menulis artikel-artikel sastra dan perempuan, menulis puisi, dan mengikuti berbagai perlombaan yang diselenggarakan di berbagai tingkatan. Oleh karena konsistensinya di bidang bahasa, Nana menerima kepercayaan sebagai Duta Bahasa Jawa Tengah dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Saat ini Nana tengah menyelesaikan pendidikan pascasarjana di Universitas Indonesia pada jurusan Susastra sembari bekerja sebagai reporter untuk program Potret Liputan 6SCTV. Waktu luangnya dihabiskan untuk mengasuh Sekolah Cinta Bahasa dan berbicara di berbagai seminar kebudayaan.
60 Puisi Indonesia Terbaik 2009 Anugerah Sastra Pena Kencana sebagai Penyair Nominator. (Gramedia, 2009).
Aku Ingin Mengirim Hujan. (Kumpulan Puisi Dewan Kesenian Semarang, 2008).
Anak-Anak Peti. Kumpulan Puisi. (Komunitas Sastra Indonesia Cab. Ungaran, 2009).
Persetubuhan Kata-Kata. (Kumpulan Puisi Penyair Jateng 5 Kota. Taman Budaya Jateng, 2009).

Tuah Tara No Ate (kumpulan cerpen dan puisi Temu Sastrawan Indonesia IV, Ternate, 2011)

Tajuddin Noor Ganie

Tajuddin Noor Ganie.jpg

Tajuddin Noor Ganie

Tajuddin Noor Ganie, S.Pd., M.Pd. (TNG) (lahir di BanjarmasinKalimantan Selatan1 Juli 1958; umur 56 tahun) adalah sastrawan dan budayawan Indonesia.
Ayahnya bernama Igan Abdul Ganie Masrie bin Hans J. Alur (1937-2003) dan ibunya bernama Hajjah Salabiah binti H. Jahri. Datuknya di pihak ayah bernama Asau (Banua Padang, Rantau) dan datuknya di pihak ibu bernama H. Marhalit (Sungai Banar, Amuntai). Istrinya bernama Norsidah binti Basri, dan mempunyai 2 orang anak Nurul Maulida dan Dwi Yulianita.
Pendidikan dasar ditempuhnya di SDN Mawar Kencana Banjarbaru (lulus, 1971), kemudian melanjutkan ke SMEPN Martapura (lulus, 1974), dan SMEAN Martapura (lulus, 1977). Ketika berusia 39 tahun, TNG secara tiba-tiba tertarik melanjutkan pendidikannya ke PBSID STKIP PGRI Banjarmasin (diwisuda sebagai wisudawan terbaik, 2002). Skripsinya berjudul Profil Sastrawan Kalimantan Selatan 1930-1999 telah diterbitkan pada tahun 2002. Selanjutnya TNG melanjutkan pendidikannya ke Program Pascasarjana PBSID FKIP Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin (lulus dengan predikat sangat memuaskan, 2005). Tesisnya berjudul "Karakteristik Peribahasa Banjar : Kajian Bentuk, Makna, Fungsi, dan Nilai "telah diterbitkan pada tahun 2005. Selain itu semua peribahasa Banjar yang telah dikajinya untuk keperluan penulisan tesis dimaksud telah diterbitkan dalam bentuk buku berjudul Kamus Peribahasa Banjar pada tahun 2005.
Sejak tahun 1979, bekerja sebagai PNS di lingkungan Departemen Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Koperasi (Depnakertranskop). Pernah bekerja di Kantor Binaguna Tenaga Kerja Kota Banjarmasin (1979-1985), Kanwil Depnaker Kalsel di Banjarbaru 1986), Kantor Kursus Latihan Kerja di Pelaihari (1986-1988), Kantor Kepaniteraan P4 Daerah Kalsel di Banjarmasin (1988-2006), dan sejak 1 Juni 2005 dipindah-tugaskan ke Balai Hyperkes dan Keselamatan Kerja Kalsel di Banjarmasin.

Sejak tahun 2002, TNG menjadi dosen tamu untuk mata kuliah kritik sastra, pendekatan struktural sastra, prosa fiksi dan drama, puisi, sosiologi sastra, dan penulisan kreatif sastra di PBSID STKIP PGRI Banjarmasin.

Pekerjaan lain yang ditekuninya di luar jam kerja adalah sebagai Pengelola Harian Pusat Pengkajian Masalah Sastra (PUSKAJIMASTRA) Kalimantan Selatan di Banjarmasin. PUSKAJIMASTRA yang dikelolanya ini memiliki 2 unit kerja, yakni Rumah Pustaka Karya Sastra dan Rumah Pustaka Folklor Banjar Melalui lembaga penelitian dan dokumentasi yang dipimpinnya ini, TNG memberikan bantuan bahan referensi yang diperlukan oleh siapa saja yang ingin meneliti dan menulis segala sesuatu mengenai karya sastra karangan sastrawan Kalsel dan folklor Banjar.


Selain itu, TNG juga bergiat sebagai pengurus di sejumlah organisasi bercorak kesastraan dan kesenian. Ia adalah Sekretaris Forum Dialog Sastra (FORDIAS) Banjarmasin, dan Bendahara di Komunitas Sastrawan Kalsel. Sejak tahun 1996, TNG juga menjadi salah seorang pengurus di Dewan Kesenian Kalimantan Selatan (DKKS), masa bakti 1996-2000 dan 2000-2005 bergiat di komisariat bidang dokumentasi dan informasi (dokinfo), dan pada masa bakti 2006-2010 bergiat di komisariat bidang penelitian dan pengembangan (litbang).
Mulai merintis kariernya sebagai sastrawan sejak tahun 1980-an. Sejak itu TNG aktif mempublikasikan puisi, cerpen, esai sastra, dan tulisan lepas mengenai folklor Banjar di berbagai koran terbitan Banjarmasin, Surabaya, Yogyakarta, dan Jakarta.

Buletin/jurnal/koran/majalah yang pernah memuat karya sastranya antara lain Buletin Antara Spektrum terbitan LKBN Antara Jakarta, SKH Berita Buana, SKH Media Indonesia, SKH Suara Karya, SKH Pelita, SKH Terbit, SKH Merdeka, SKM Swadesi, SKM Simponi, Majalah Senang, Majalah Idola, Majalah Topik, Majalah Misteri, Majalah Warnasari, Jurnal Kebudayaan, Majalah Mata Baca (semuanya terbitan Jakarta), SKH Jawa Pos, SKH Surya, Majalah Liberty (semuanya terbitan Surabaya), SKM Minggu Pagi (Yogyakarta), Majalah Bahana Brunei Darussalam, SKH Banjarmasin Post, SKH Dinamika Berita, SKH Radar Banjarmasin, SKH Barito Post, SKH Kalimantan Post, dan SKH Mata Banua (semuanya terbitan Banjarmasin).

Pada tahun 2005, novelnya berjudul "Tegaknya Masjid Kami" dimuat secara bersambung di SKH Radar Banjarmasin.

Sejumlah tulisan TNG yang pernah dimuat di berbagai koran/majalah edisi online dapat dibaca kembali melalui website mesin pencari data :google.co.id/Tajuddin Noor Ganie atau yahoo.co.id/Tajuddin Noor Ganie.


TNG adalah orang pertama yang memilah-milah peribahasa Banjar menjadi 2 klasifikasi, yaitu : peribahasa Banjar berbentuk puisi, dan (2) peribahasa Banjar berbentuk kalimat. Peribahasa Banjar berbentuk puisi terdiri atas genre/jenis, yakni : (1) Gurindam Banjar, (2) Kiasan Banjar, (3) Mamang Papadah, (4) Pameo Huhulutan, (5) Saluka Banjar,dan (6) Tamsil Banjar (paparannya sudah dapat dibaca dalam tulisannya di Wikepdia, Peribahasa Banjar berbentuk Puisi, lihat : Seni Tradisional Banjar). Peribahasa Banjar berbentuk kalimat terdiri atas 5 genre/jenis, yakni : (1) Ibarat, (2) Papadah, (3) Papatah-patitih, (4) Paribasa, dan (5) Paumpamaan
Antologi puisi TNG yang sudah diterbitkan antara lain :

Bulu Tangan (HPMB, Banjarmasin, 1982).
Sementara itu antologi puisi bersama yang ikut memuat puisi-puisinya antara lain :

Antologi Puisi ASEAN (Denpasar, 1982)
Puisi Indonesia 1987 (DKJ TIM Jakarta, 1987)
Selagi Ombak Mengejar Pantai 6 (Selangor, Malaysia, 1989)
Festival Puisi XII (Surabaya, 1990)
Potret Pariwisata Indonesia dalam Puisi (Jakarta, 1990)
Festival Puisi Kalimantan (Banjarmasin, 1992)
Refleksi Setengah Abad Indonesia Merdeka (Taman Budaya Surakarta, 1995).
Selain itu, TNG juga telah menjadi editor untuk sejumlah penerbitan antologi puisi bersama terbitan Banjarmasin, yakni :

Dahaga-B.Post 1981 (1982)
Banjarmasin Kota Kita (1984)
Elite Penyair Kalsel (1986)
Festival Puisi Kalimantan (1992).
Antologi cerpen TNG yang sudah diterbitkan adalah Nyanyian Alam Pedalaman (Penerbit Pustaka Pelajar Yoggyakart, 1999). Buku ini memuat 12 judul cerpen bertema pariwisata Kalsel (ditulisnya bersama Hadian Noor). Pada tahun 2005, TNG menjadi salah seorang anggota penulis buku biografi Walikota Banjarmasin Bapak Midfai Yabani berjudul Dari Walikelas Menjadi Walikota.


Cerpen-cerpen yang dimuat di Majalah Idola Jakarta pada tahun 1980-1989 telah diteliti oleh 3 orang mahasiswa PBSID STKIP PGRI Banjarmasin untuk keperluan penulisan skripsi mereka, yakni : Profil Tokoh Antagonis dalam Cerpen-cerpen Tajuddin Noor Ganie (Fetty Dahliani, 2001), Tokoh Protagonis dalam Cerpen-cerpen Tajuddin Noor Ganie (Ni Ketut Suwandi, 2001), dan Analisis Tema dan Penokohan Dalam Cerpen-cerpen Tajuddin Noor Ganie (Norhidayat, 2003). Selain itu penelitian atas cerpen-cerpen TNG juga sudah dilakukan oleh Dra. Hj. Endang Sulistyowati, M.Pd, hasil penelitian dimaksud telah dibukukan di bawah judul Cerita Rakyat Etnis Banjar Sebagai Sumber Ilham Penulisan Kreatif Sastra : Analisis Hubungan Intertekstualitas Penulisan Cerpen-cerpen Tajuddin Noor Ganie (2005).
Buku-buku TNG yang juga sudah diterbitkan antara lain :

Penyair Kalsel Terkemuka Selepas tahun 1980 (1982)
Sejarah Lokal Kesusastraan Indonesia di Kalsel (1985)
Apa dan Siapa Sastrawan Kalsel (1985)
Ensiklopedia Lokal Kesusastraan Indonesia di Kalsel (1995)
Sketsa Sastrawan Kalimantan Selatan (bersama Jarkasi, Pusat Bahasa Kalsel, Banjarmasin, 2001)
Profil Sastrawan Kalsel 1930-1999 (Skripsi S.1)
Karakteristik Bentuk, Makna, Fungsi dan Nilai Peribahasa Banjar (2005)
Jatidiri Puisi Rakyat Etnis Banjar di Kalsel (Peribahasa Banjar, Pantun Banjar, Syair Banjar, Madihin, dan Mantra Banjar)(Rumah Pustaka Folklor Banjar, Banjarmasin, 2007).
Kamus Peribahasa Banjar (Edisi 2006, dan Edisi 2007)

Khusus Kamus Peribahasa Banjar (Rumah Pustaka Folklor Banjar, Edisi 2007) di dalamnya dimuat 1.358 buah peribahasa Banjar. Setiap peribahasa Banjar yang menjadi entrinya dipaparkan secara rinci bentuk fisiknya, makna muatan dan makna ikutannya, fungsi sosial kemasyarakatannya, dan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.

Ahmadun Yosi Herfanda


AhmadunHerfanda.JPGAhmadun Yosi Herfanda atau juga ditulis Ahmadun Y. Herfanda atau Ahmadun YH (lahir di KaliwunguKabupaten KendalJawa Tengah17 Januari 1958; umur 57 tahun), adalah seorang penulis jurnalis dan sastrawan berkebangsaan Indonesia Dia menulisesai sastracerpen, dan sajak sufistik sosial-religius. Sementara, cerpen-cerpennya bergaya karikatural dengan tema-tema kritik sosial. Ia juga banyak menulis esei sastra

Sejak menjadi mahasiswa, Ahmadun telah aktif sebagai editor dan jurnalis. Dimulai dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1983-1999), lalu di Harian Yogya Post (1999-1992), Majalah Sarinah (bersama Korrie Layun Rampan, 1992-1993), dan terakhir di Harian Republika Jakarta (1993-2010). Di harian Republika ia menjabat sebagai Redaktur Sastra, Koordinator Desk Opini dan Budaya, dan Asisten Redaktur Pelaksana. Karier strukturalnya tidak begitu ia perhatikan, karena kesibukannya dalam menulis karya kreatif, mengelola acara-acara sastra, dan menjadi nara sumber berbagai workshop penulisan, mengajar di sejumlah perguruan tinggi, mengisi diskusi, pentas baca puisi, serta seminar sastra di berbagai kota di tanah air dan mancanegara. Dalam perjalanan karier terakhirnya (di Republika), aktivitas sastra lebih banyak menyedot kecintaannya daripada kerja jurnalistik.[4][5][6]

Sejak Maret 2010 Ahmadun aktif sebagai Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) untuk periode 2010-2013. Ini adalah untuk kedua kalinya ia menjadi anggota DKJ. Sebagai sastrawan (penyair), ia sering diundang untuk membacakan sajak-sajaknya maupun menjadi pembicara dalam berbagai pertemuan sastrawan serta diskusi dan seminar sastra nasional maupun internasional, antara lain di Seoul dan Ansan (Korea Selatan), Kairo Mesir, Thailand, Singapura, Malaysia, Turkey, dan Brunei Darussalam, serta berbagai kota di Indonesia.[7]


Setelah menyelesaikan di Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS) IKIP Yogyakarta, ia melanjutkan pendidikan jenjang S-2 jurusan Teknologi Informasi pada Universitas Paramadina, Jakarta, 2005. Ia pernah menjadi Ketua III Himpunan Sarjana Kesastraan Indonesia (HISKI, 1993-1995), dan ketua Presidium Komunitas Sastra Indonesia (KSI, 1999-2002). Tahun 2003, bersama cerpenis Hudan Hidayat dan Maman S. Mahayana, ia mendirikan Creative Writing Institute (CWI). Tahun 2007 terpilih sebagai Ketua Umum Komunitas Cerpen Indonesia (KCI, 2007-2010). Tahun 2008 terpilih sebagai Ketua Umum Komunitas Sastra Indonesia (KSI). Ahmadun juga pernah menjadi anggota Dewan Penasihat dan anggota Mejelis Penulis Forum Lingkar Pena (FLP). Tahun 2010, bersama sejumlah sastrawan Jakarta, mendirikan Yayasan Sastra Indonesia -- Yayasan Cinta Sastra -- dan diamanati menjadi ketuanya. Saat ini ia juga sedang mengembangkan usaha percetakan dan penerbitan buku dengan bendera Jakarta Publishing House -- PT Media Cipta Mandiri (MCM), dan sejak 2010 menjadi dosen Creative Writing di Universitas Multimedia Nusantara (UMN) Serpong, serta tercatat sebagai anggota dewan pakar Institute of Malay Studies Patthani University (Thailand) dan tim ahli Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) Sastra Kemendikbud RI
Karya-karya Ahmadun dipublikasikan di berbagai media sastra dan antologi puisi yang terbit di dalam dan luar negeri, antara lain, Horison, Ulumul Qur'anKompasMedia IndonesiaRepublika, Bahana (Brunei), antologi puisi Secreets Need Words (Ohio University, A.S., 2001), Waves of Wonder (The International Library of Poetry, Maryland, A.S., 2002), jurnal Indonesia and The Malay World (London, Inggris, November 1998), The Poets’ Chant (The Literary Section, Committee of The Istiqlal Festival II, Jakarta, 1995).
Beberapa kali sajak-sajaknya dibahas dalam "Sajak-Sajak Bulan Ini Radio Suara Jerman" (Deutsche Welle). Cerpennya, Sebutir Kepala dan Seekor Kucing, memenangkan salah satu penghargaan dalam Sayembara Cerpen Kincir Emas 1988 Radio Nederland (Belanda) dan dibukukan dalam Paradoks Kilas Balik (Radio Nederland, 1989). Tahun 1997 ia meraih penghargaan tertinggi dalam Peraduan Puisi Islam MABIMS (forum informal Menteri Agama BruneiIndonesiaMalaysia, dan Singapura). Beberapa buku karya Ahmadun yang telah terbit sejak dasawarsa 1980-an, antara lain:
  • Ladang Hijau (Eska Publishing, 1980),
  • Sang Matahari (kumpulan puisi, bersama Ragil Suwarna Pragolapati, Nusa Indah, Ende, 1984),
  • Syair Istirah (bersama Emha Ainun Nadjib dan Suminto A. Sayuti, Masyarakat Poetika Indonesia, 1986),
  • Sajak Penari (kumpulan puisi, Masyarakat Poetika Indonesia, 1990),
  • Sebelum Tertawa Dilarang (kumpulan cerpen, Balai Pustaka, 1997),
  • Fragmen-fragmen Kekalahan (kumpulan sajak, Forum Sastra Bandung, 1997),
  • Sembahyang Rumputan (kumpulan puisi, Bentang Budaya, 1997),
  • Ciuman Pertama untuk Tuhan (kumpulan puisi, bilingual, Logung Pustaka, 2004),
  • Sebutir Kepala dan Seekor Kucing (kumpulan cerpen, Bening Publishing, 2004),
  • Badai Laut Biru (kumpulan cerpen, Senayan Abadi Publishing, 2004),
  • The Warshipping Grass (kumpulan puisi bilingual, Bening Publishing, 2005),
  • Resonansi Indonesia (kumpulan sajak sosial, Jakarta Publishing House, 2006),
  • Koridor yang Terbelah (kumpulan esei sastra, Jakarta Publishing House, 2006).
  • Yang Muda yang Membaca (buku esai panjang, Kemenegpora RI, 2009).
  • Sajadah Kata (kumpulan puisi, Pustaka Littera, 2013).

Endang Werdiningsih


Endang Werdiningsih.pngEndang Werdiningsih, SH, M.Kn (lahir di Kota Tegal, Jawa Tengah, 27 Oktober 1957; umur 57 tahun) adalah sastrawati yang juga seorang wartawati berkebangsaan Indonesia. Di kancah kesusastraan Indonesia namanya dikenal ketika karya-karyanya sering dimuat di majalah Anita Cemerlang, dekade 1980-an. Endang adalah wakil pemimpin redaksi Majalah Kartini. Dia sering dipercaya oleh perusahaannya meliput acara-acara kepresidenan, baik di dalam maupun luar negeri. Pada tahun 2014 lalu, dia terpilih sebagai ketua Persatuan Wartawan Indonesia provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta (PWI Jaya) untuk periode 2014 sampai dengan 2019. Karyanya, Lonceng (1976), pernah mengantarkannya meraih penghargaan Adinegoro dari Yayasan Hadiah Jurnalistik Adinegoro, untuk kategori penulisan bidang pembangunan.


Endang Werdiningsih dilahirkan di Kota Tegal. Sejam muda dia sudah menekuni dunia sastra; menulis puisi, mengikuti lomba baca puisi, dan terlibat dalam penerbitan antologi puisi. Dia belajar langsung dengan gurunya yang juga merupakan salah satu sastrawan angkatan 1966, Piek Ardijanto Soeprijadi. Kemampuannya semakin terasah saat dia mulai bergaul dengan para sastrawan Dari Negeri Poci antara lain Handrawan Nadesul, Rahadi Zakaria, Kurniawan Junaedhie, dan Eka Budianta. Usai menamatkan pendidikan SMA 1 Tegal, dia melanjutkan di fakultas hukum Universitas Islam Indonesia Yogyakarta. Karirnya sebagai wartawati dia jalani setelah dia hijrah ke Jakarta di majalah Kartini. Namun kesibukannya sebagai pimpinan redaksi tak menyurutkan langkahnya untuk tetap berkarya, menulis cerpen dan puisi yang dimuat di berbagai media massa.

Dari Negeri Poci (2013)
Dari Negeri Poci (2014)
Kartini 2012: Antologi Puisi Perempuan Penyair Indonesia Mutakhir (2012)

Cucuk Espe


Cucuk Espe.jpgCucuk Espe (lahir di Jombang, Jawa Timur, 19 Maret 1974; umur 41 tahun) adalah seorang penyair, esais, cerpenis dan penulis naskah drama, juga aktor Indonesia yang dikenal sangat produktif menulis di berbagai media cetak nasional di Indonesia dan beberapa jurnal seni di luar negeri. Ia belajar Bahasa Indonesia di IKIP Malang. Setelah itu menjadi seniman adalah pilihan hidupnya dan mendirikan Teater Kopi Hitam Indonesia.


Cucuk Espe pernah menjadi aktor teater terbaik pada Peksiminas III di Taman Ismail Marzuki Jakarta (1995). Selanjutnya, ia mendirikan dan memimpin Teater Kopi Hitam Indonesia yang telah berpentas di hampir seluruh kota besar di Indonesia. Kini aktivitasnya hanya berteater dan menulis. Juga bersama sejumlah pegiat kebudayaan di Jawa Timur menggagas Lembaga Baca-Tulis Indonesia (LBTI) yakni sebuah komunitas nirlaba yang bergerak di bidang kebudayaan (menuju masyarakat makin berbudaya). Sejumlah esainya sering dipublikasikan di Jawa Pos, Kompas, Republika, Media Indonesia, Lampung Post, Radar Surabaya, Bali Post, Banjarmasin Post, Surabaya Pagi, Harian Bhirawa, dan banyak Media Online

Cucuk Espe sendiri ditahun 2015 juga aktif dalam gerakan 'Gugat Ikon Jombang' yang dilakukan bersama pemuda-pemuda di Jombang. Gerakan ini sendiri dilakukan sebagai protes terhadap Pemerintah Kota Jombang perihal ikon jombang yang menggunakan tower. Warga Jombang menginginkan ikon Jombang menggunakan besut , karena besut merupakan budaya khas Jombang yang juga menjadi cikal bakal ludruk dan lain-lain.

Para Pejabat, (1995)
Monolog Sang Penari, (1997)
Bukan Mimpi Buruk, (1998)
Mengejar Kereta Mimpi, (2001)
Rembulan Retak, (2003)
Juliet dan Juliet, (2004)
13 Pagi, (2010)
Trilogi monolog JENDERAL MARKUS, (2010)
INONG dongeng rumah jalang, (2011)
Wisma Presiden, (2012)
Ganasrev, (monolog-2013)
Puisinolog; MANIVESTO ORGIL, (2014)

Kuda Lumping dari Gunung Sumbing, (TVRI, 1996)
Ketupat Lebaran, (sinema lebaran, 1998)
Perempuan Bukan Perempuan, (IndMovie Festival, SCTV, 1999)
Matahari dalam Selokan, (SCTV Movie, 2001)
Jadikan Aku Perempuan, (IndiePro, 2010)

Bulan Sabit di Atas Kubah (Pustaka Radar Minggu, 2010)
13 Pagi diangkat dari repertoar teater (Pustaka Radar Minggu, 2011)
Ketika Karya Sastra Dipanggungkan (Lembaga Baca-Tulis Indonesia, 2012)
Revolusi Senyap (Harfeey, 2014)
3 Repertoar Cucuk Espe (DJMPublisher, 2014)
Sejumlah cerpen dan esai yang tersebar di media cetak dalam dan luar negeri

Muhammad Rois Rinaldi

Muhammad Rois Rinaldi (lahir di Banten, 8 Mei 1988; umur 27 tahun) adalah sastrawan muda berkebangsaan Indonesia. Dia menulis puisi, cerita pendek, dan esai sastra. Beberapa karyanya mengantarkan namanya menerima penghargaan dari sejumlah organisasi sastra antara lain Esastera, Numera, dan Puisikan Bait Kata Suara. Selain terbit di beberapa antologi bersama dan antologi pribadi, karya Muhamad Rois juga dimuat di media massa. Puisinya, Nun Serumpun, menjadi judul antologi puisi yang ditulis oleh puluhan penyair dari berbagai negara dan diluncurkan akhir 2014

Sastracyber: Makna dan Tanda (Esastera Enterprise, Malaysia 2015)
Terlepas (Pustaka Senja, Yogyakarta, 2015)
Noor Aisya: Karya dan Kiprahnya (Pustaka Senja, Yogyakarta, 2015)
Risalah Melayu Nun Serumpun (Badan Bahasa dan Pustaka Malaysia, 2014).
Bebas Melata (Sarjana, Kuala Lumpur, 2013).
Sang Kalamorgana (Sembilan Mutiara Publishing, 2013).
Mistis (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banten, 2013).
Tifa Nusantara (Dewan Kesenian Kabupaten Tangerang, 2013).
Sepasang Angsa (Abatatsa Publising, 2012).

Dharmadi

Dharmadi (lahir di Semarang, Jawa Tengah, 29 September 1948; umur 66 tahun) adalah sastrawan berkebangsaan Indonesia. Namanya dikenal sebagai penyair sejak dekade 1970-an dengan karakter puisi-puisi pendek. Dharmadi merupakan salah satu penyair pendiri kajian seni Kancah Budaya Merdeka di Purwokerto, Banyumas, tahun 1993. Tahun 2013 dia mengeluarkan album musikalisasi puisi yang terambil dari salah satu bukunya, Kalau Kau Rindu Aku, diaransemen oleh Joshua Igho dan dinyanyikan oleh istrinya.

Dharmadi lahir di Semarang, Jawa Tengah, 29 September 1948. Dia menyelesaikan pendidikannya di Fakultas Ekonomi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah, sampai tingkat sarjana muda. Di kenal sebagai penyair yang senang menulis puisi-puisi pendek, namun mampu menawarkan imaji yang panjang bagi penikmat puisi-puisinya. Karya-karya puisinya digolongkan bernuansa sufistik. Hal tersebut tak lepas dari kegemarannya yang kerap menuangkan berbagai pengalaman religiusnya sehari-hari ke dalam puisi karyanya.

Selain berkarya, Dharmadi juga aktif di Sanggar Pelangi (1971), Himpunan Penulis Muda Purwokerto (1974), Lingkar Seni dan Budaya (1986) dan Kancah Budaya Merdeka Banyumas (1993). Dalam proses kreatifnya berpuisi kerap memandang bahwa alam itu mempunyai daya. Daya yang ada pada alam itu adalah daya berasal dari Tuhan atau Kuasa Tuhan. Di situlah ia kemudian menggunakan diksi-diksi alam sebagai simbol ritual atau metafora. Kemudian ia mengekspresikan kreativitas dan imajinasinya ketika berbicara mengenai relasinya dengan Sang Khalik dan keterkaitannya dengan alam yang disikapinya dengan penghargaan penuh. Mungkin inilah yang ditangkap oleh pembaca, sehingga puisi-puisinya kemudian digolongkan ke dalam puisi sufistik. Dharmadi lebih banyak menjalani proses kreatifnya ketika menjadi pegawai negeri sipil (PNS) di Purwokerto.

karya :
Kembali Ke Asa (Buku Kumpulan Puisi, 1999)
Dalam Kemarau (Buku Kumpulan Puisi, 2000)
Aku Mengunyah Cahaya Bulan (Buku Kumpulan yang berisi 56 puisi pilihan karyanya sejak 1974-2004)
Kalau Kau Rindu Aku (Buku Kumpulan Puisi, 2012)
Melacak Jejak (1993)
Antologi Puisi Jawa Tengah (1994)
Lirik-Lirik Kemenangan (1994)
Dari Negeri Poci (1993)
Getar II (1996)
Dari Negeri Poci 2 (1994)
Dari Negeri Poci 3 (1996)
Antologi Puisi Indonesia 1997 (1997)
Dari Negeri Poci 4 (2013)
Dari Negeri Poci 5 (2014)
Puisi Menolak Korupsi (2014)
Memo Untuk Presiden (2014

Raudal Tanjung Banua (lahir di Taratak, Pesisir Selatan, Sumatera Barat, 19 Januari 1975; umur 40 tahun) adalah sastrawan Indonesia yang banyak menulis puisi dan cerita pendek.


Raudal pernah menjadi koresponden Harian Semangat dan Haluan, Padang. Raudal menyelesaikan studinya di Jurusan Teater Yogyakarta. Karyanya yang berupa puisi, cerpen dan esei dipublikasikan di pelbagai media massa dan antologi. Kini ia mengelola Komunitas Rumah Lebah Yogyakarta, Penerbit Akar Indonesia, dan Jurnal Cerpen Indonesia.

Buku
Pulau Cinta di Peta Buta (2003)
Ziarah bagi yang Hidup (2004)
Parang Tak Berulu (2005)
Gugusan Mata Ibu (2005)

Penghargaan
Sih Award dari Jurnal Puisi
Anugerah Sastra Horison untuk cerpen terbaik dari Majalah Sastra Horison

Raudal Tanjung Banua


Raudal Tanjung Banua

Tokoh Angkatan Reformasi


Isbedi Setiawan ZS


Acep Zamzam Noor

Hasil gambar untuk picture penyair terkini
Gunawan Muhammad

Hasil gambar untuk picture penyair terkini
Sitok Srengenge

Hasil gambar untuk picture penyair terkini
Sosiawan Leak

Hasil gambar untuk picture penyair terkini
Saut Situmorang



Tokoh Angkatan Reformasi

AGUS R SARDJONO
Agus R Sardjono

BENI SETIA
Benny Setia

BUDHI SETYAWAN
 Budhi Setyawan


Nurochman Sudibyo

JAMAL D RAHMAN
Jamal D Rachman

Radhar Panca Dahana
Radhar Panca Dahana

GOL A GONG
Gol A Gong

WAWAN HAMZAH ARFAN
Wawan Hamzah Arfan


Hasil gambar untuk picture penyair terkini rg bagus warsono
Rg Bagus Warsono


Iwan Soekri Munaf


Sino Gubira Adjidharma


Toto S Radik

Dorothea Rosa Herliany

Daftar sastrawan Indonesia sampai Angkatan Reformasi

Daftar sastrawan Indonesia
• Daftar sastrawan Indonesia
A
• A. Damhoeri
• Abas Sutan Pamuntjak Nan Sati
• Abdurrahman Siddiq
• Abrar Yusra
• Acep Syahril
• Pembicaraan:Acep Syahril
• Adek Alwi
• Adinegoro
• Adjim Arijadi
• Adri Sandra
• Zainal Afif
• Agus Noor
• Ahmad Fuadi
• Sobron Aidit
• Akmal Nasery Basral
• Martin Aleida
• Alfons Taryadi
• Ali Hasyimi
• Sutan Takdir Alisjahbana
• Aliya Nurlela
• Amran S.N.
• Anas Ma'ruf
• Andi Amrullah
• Rosihan Anwar
• Rivai Apin
• Lesik Kati Ara
• Arafat Nur
• SM Ardan
• Ari Setya Ardhi
• Arsyad Indradi
• Syubah Asa
• Asep S. Sambodja
• Arswendo Atmowiloto
• Ali Audah
• Ayatrohaedi
• Djenar Maesa Ayu
• Azwar Sutan Malaka
B
• Toto Sudarto Bachtiar
• Bakhtiar Sanderta
• Muhammad Balfas
• Titis Basino
• Fira Basuki
• Abdurrahman Baswedan
• Beni Setia
• Ali Haji bin Raja Haji Ahmad
• Binhad Nurrohmat
• Misbach Yusa Biran
• Boedi Ismanto
• Motinggo Boesje
• Bonari Nabonenar
• Suparto Brata
• Budi Darma
• Valiant Budi Yogi
• Bustami Narda
C
• Candra Malik
• Carl Chairul
• Chairul Harun
D
• Daeng Kanduruan Ardiwinata
• Radhar Panca Dahana
• Damhuri Muhammad
• Danarto
• Saleh Danasasmita
• Dharmadi
• A.S. Dharta
• Diah Hadaning
• Dianing Widya Yudhistira
• Dimas Arika Mihardja
• Nh. Dini
• Tamar Djaja
E
• E.S. Ito
• Edi Ruslan PE Amanriza
• Edwar Djamaris
• Roestam Effendi
• Tenas Effendy
• Eka Budianta
• Habiburrahman El Shirazy
• Elis Suryani
• Endang Werdiningsih
• Esha Tegar Putra
• Cucuk Espe
F
• Abdurahman Faiz
• Fatin Hamama
• Frans Nadjira
G
• Tajuddin Noor Ganie
• Gol A Gong
• Gouw Peng Liang
• Gunawan Maryanto
• Gunoto Saparie
H
• H.B Jassin
• Hamid Jabbar
• Abdul Malik Karim Amrullah
• Hamzah al-Fansuri
• Amir Hamzah
• Handry TM
• Langit Kresna Hariadi
• Hartojo Andangdaja
• Soeman Hs
• Hasif Amini
• Budi P. Hatees
• Helvy Tiana Rosa
• Ahmadun Yosi Herfanda
• Hermawan Aksan
• J.F.X. Hoery
• Mangasa Sotarduga Hutagalung
• Bokor Hutasuhut
I
• Iberamsyah Barbary
• Idrus
• Ignas Kleden
• Ikranagara
• Ratna Indraswari
• Indrian Koto
• Irzen Hawer
• Nur Sutan Iskandar
• Iskandarwassid
• Sariamin Ismail
• Ismet Fanany
• Iyut Fitra
J
• Jamal D. Rahman
• Hans Bague Jassin
• Joesoef Isak
• Joni Ariadinata
• Joshua Igho
• Juniarso Ridwan
• Hasan Junus
• Umar Junus
K
• Achdiat K. Mihardja
• Mh. Rustandi Kartakusuma
• Udo Z. Karzi
• Marianne Katoppo
• Umar Kayam
• Khairul Jasmi
• Kirdjomulyo
• Ratih Kumala
• Kuntowijoyo
• Kurnia Effendi
• Kurniawan Junaedhie
• Eka Kurniawan
• Kwee Tek Hoay
L
• La Rose
• A.S. Laksana
• Daftar sastrawan Lampung
• Korrie Layun Rampan
• Sosiawan Leak
• Leila S. Chudori
• Leon Agusta
• Linda Christanty
• Medy Loekito
• Mochtar Lubis
• Lukman Ali
M
• Aman Datuk Madjoindo
• Makmur Hendrik
• Afrizal Malna
• Maman S. Mahayana
• Mardi Luhung
• Yudhistira ANM Massardi
• Matu Mona
• Mbah brintik
• Dyah Merta
• Miftahur Rahman El-Banjary
• Toha Mochtar
• Darman Moenir
• Goenawan Mohamad
• Muhammad Rois Rinaldi
• Muhammad Subhan
• Abdoel Moeis
• Firman Muntaco (sastrawan)
• Mursal Esten
• Abdul Hadi WM
N
• Wilson Nadeak
• Anas Nafis
• Nana Riskhi Susanti
• A.A. Navis
• Acep Zamzam Noor
• Nugroho Notosusanto
O
• Dina Oktaviani
P
• Pandir Kelana
• Armijn Pane
• Sanusi Pane
• Poerbatjaraka
• Rachmat Djoko Pradopo
• Iswadi Pratama
• Puthut EA
• Putu Fajar Arcana
R
• Raedu Basha
• Ragdi F. Daye
• Rahadi Zakaria
• Ramadhan K.H.
• Hamsad Rangkuti
• Ratna Ayu Budhiarti
• Raudal Tanjung Banua
• Ray Rizal
• Remy Soetansyah
• W.S. Rendra
• G.J. Resink
• Revo Arka Giri Soekatno
• Rg Bagus Warsono
• Riki Dhamparan Putra
• Riris Toha Sarumpaet
• Marah Roesli

Denny Januar Ali

Denny Januar Ali,atau nama populernya: Denny JA (lahir di Palembang, Sumatera Selatan, 4 Januari 1963; umur 51 tahun) adalah intelektual Entrepreneur atau Entrepreneur intelektual. Ia banyak membuat tradisi baru dan rekor di dunia akademik, politik, media sosial, sastra dan budaya di Indonesia .
Kepeloporannya dalam mengubah politik pemilu melalui survei opini publik dan konsultan politik
Ia membuat riset opini publik (survei) dan marketing politik (konsultan politik) menjadi variabel baru pertarungan pemilu dan pilkada di Indonesia. Saat ini hampir tak ada lagi pertarungan pemilu nasional atau pilkada di wilayah strategis di Indonesia yang tidak menggunakan jasa lembaga survei dan konsultan politik. Lingkaran Survei Indonesia yang didirikan Denny JA pada tahun 2005 dianggap sebagai institusi pertama yang masif yang berperan dalam politik baru pemilu.
Sejak Lingkaran Survei Indonesia (LSI) berdiri pada tahun 2005, LSI menjadikan lembaga survey dan riset sosial menjadi instrumen penting pertarungan politik. LSI banyak meyakinkan partai politik, kandidat presiden, kandidat kepala daerah dan elit politik lainnya akan pentingnya survei pemilih. Lewat survei, posisi, kekuatan dan kelemahan partai atau kandidat bisa diketahui sedini mungkin. Strategi politik bisa dilakukan secara efektif dan efisien karena memperhatikan data mengenai apa yang dibutuhkan oleh pemilih. Dari tahun 2004 hingga 2012, LSI telah mengerjakan lebih dari 800 survei perilaku pemilih di seluruh Indonesia dari beragam klien---mulai dari partai politik, kandidat presiden, kandidat anggota DPR/DPRD/DPD dan kandidat kepala daerah.
Sejak tahun 2005, Lingkaran Survei Indonesia (LSI) telah aktif dalam melakukan survey pemilihan dan memprediksikan siapa yang akan memenangkan pemilihan---- mulai dari partai politik, kandidat presiden, kandidat anggota DPR/DPRD/DPD dan kandidat kepala daerah. LSI berani mempublikasikan hasil prediksi tersebut lewat konferensi pers dan iklan di media massa. Tujuan publikasi tersebut bukan untuk mempengaruhi pemilih, tetapi untuk membuktikan dan menunjukkan bahwa survei dan riset sosial bisa dipakai sebagai alat prediksi. Hasil-hasil prediksi LSI selama ini selalu tepat. Apa yang diprediksikan oleh survey indonesia LSI, tercermin dari hasil aktual ketika Pemilu atau Pilkada diumumkan. Harian Republika menyebut Lingkaran Survei Indonesia (LSI) sebagai “dukun politik” karena kerap memprediksi kemenangan seorang kandidat ataui partai jauh sebelum pemilihan dilakukan.  Museum Rekor Indonesia (MURI) memberikan lima buah penghargaan karena ketepatan dan akurasi LSI dalam memprediksikan hasil pemilihan. Survei Indonesia Pertama yang Akurat yang diiklankan, pada Pilkada Provinsi Kepulauan Riau tahun 2005.  Survei Prediksi Pemilu Legislatif Pertama yang Akurat yang diiklankan, tahun 2009.  Survei Prediksi Pemilu Presiden yang Akurat yang diiklankan, tahun 2009.  , (4) Survei Prediksi Pilkada Akurat Terbanyak yang diiklankan Dalam Satu Musim Pilkada (13 Pilkada, tahun 2005-2008). Lembaga Riset yang Paling Banyak Membuat Prediksi Berdasarkan Survey yang Akurasinya 100% dalam Satu Bulan yakni 5 Prediksi yang Akurat di Bulan Maret 2006
Lingkaran Survei Indonesia (LSI) adalah konsultan politik profesional pertama di Indonesia. Sebelum Lingkaran Survei Indonesia (LSI) memang ada beberapa orang atau lembaga yang ikut membantu kemenangan partai atau kandidat. Tetapi mereka tidak menyebut dirinya sebagai konsultan politik profesional. LSI adalah lembaga pertama yang menyebut diri sebagai konsultan politik profesional[22] Masuknya para profesional dalam politik telah dimulai pada Pemilu tahun 2004. Mereka umumnya berasal dari biro iklan komersial, seperti Hotline Advertising dan Matari Advertising yang membantu partai dalam merancang iklan dan pesan kampanye. Pada tahun 2005, LSI memulai kerja dengan spesialisasi pada konsultan untuk politik, dan menawarkan jasa bukan hanya sebatas pada iklan dan pengemasan kandidat (citra). LSI menawarkan semua jenis pekerjaan yang dibutuhkan untuk kemenangan kandidat---mulai dari penyiapan strategi, visi misi, kampanye dari rumah ke rumah, kampanye media, hingga penyiapan saksi saat pemilihan Setelah LSI, kemudian bermunculan berbagai lembaga konsultan politik di Indonesia, seperti Indobarometer, Fox Indonesia, Polmark Indonesia, Milenium Cipta Citra dan sebagainya.
LSI menjadi pelopor karena pertama kali membuka pasar ini dan hingga kini profesi konsultan politik telah diterima oleh partai, kandidat dan komunitas politik di Indonesia. Konsultan politik sekarang ini diterima sebagai bagian penting dari proses dan aktor politik di Indonesia. Selain menjadi pelopor, LSI juga menjadi pionir, karena keberhasilannya dalam memenangkan klien - partai politik, kandidat kepala daerah. Hingga tahun 2012, LSI telah membantu kemenangan 24 gubernur di seluruh Indonesia.
Lingkaran Survei Indonesia (LSI) juga dikenal karena aktif melakukan perhitungan cepat ( Quick Count) pada Pemilu dan Pilkada. Wilayah Indonesia sangat luas dan banyak letak geografis yang sulit dijangkau. Ini menyebabkan hasil pemilihan biasanya memakan waktu lama. Hasil Pemilu / Pilkada umumnya baru bisa diketahui 2 minggu hingga 1 bulan setelah pemilihan. Dulu, orang harus menunggu waktu yang lama untuk mengetahui siapa pemenang Pemilu / Pilkada. Situasi politik di daerah menjadi tidak kondusif. Kantor KPU tiap hari didatangi pendukung calon untuk mengetahui perkembangan suara calon---tidak jarang diiringi dengan demonstrasi dan aksi kekerasan. Pengusaha dan kegiatan ekonomi selama itu juga tidak bisa beraktifitas menunggu pemenang Pemilu / Pilkada.
Sejak tahun 2005, LSI telah melakukan ratusan quick count dengan hasil yang akurat dan presisi. Semua quick count LSI dilakukan dengan proses yang cepat, hanya kurang dari 4 jam setelah pemungutan suara selesai. Hasil quick count dipublikasikan dalam konferensi pers dan kerjasama dengan televisi nasional (TV One dan Metro TV) dan televisi lokal.
2. Kepeloporan dalam genre baru sastra ( puisi esai ). Denny JA juga membawa warna baru dalam dunia sastra Indonesia. Ia memperkenalkan sebuah genre yang disebutnya dengan puisi esai. Melalui genre ini Denny JA membawa puisi melampaui peran tradisionalnya karena menjadikan puisi sekaligus punya kekuatan esai, dan menjadikan esai memiliki keindahan puitik. Genre baru puisi esai ini mendapat sambutan luas pro dan kontra. Baru berusia setahun, puisi esai sudah menciptakan begitu banyak followership berupa 8 buku puisi esai. Sebuah jurnal sastra ternama Jurnal Sajak bahkan melombakan penulisan puisi esai setiap tahunnya. Puisi Esai Denny JA sendiri sudah diterjemahkan kedalam aneka seni lain seperti film, teater, lukisan, foto dan lagu.
Sampai tanggal 7 Januari 2013, belum genap 10 bulan sejak diluncurkannya, web www.puisi-esai.com telah diklik lebih dari 7 juta kali (persisnya 7.502.891). Ini menunjukkan betapa puisi kembali dekat dengan khalayak. Publik luas membaca dan merespon puisi dalam waktu cepat dan massif. Dapat diduga bahwa mereka pun sebenarnya akan memberikan respon yang sama kepada puisi lain, asalkan mereka dihidangkan puisi dengan bahasa yang mudah; asalkan mereka disajikan tema yang juga menjadi kegelisahan mereka sendiri; asalkan mereka diberikan pula kemudahan akses untuk membaca puisi itu melalui jaringan yang kini hot, media sosial: twitter, smartphone, internet.
Selain dibuat dalam bentuk film, puisi-puisi esai karya Denny JA dalam buku Atas Nama Cinta juga dibuatkan versi poetry reading-nya dalam bentuk video klip yang melibatkan para sastrawan dan budayawan Putu Wijaya , Sutardji Calzoum Bachri, Niniek L Karim , Sudjiwo Tedjo, dan Fatin Hamama.
Tema-tema puisi esai Denny JA yang sudah difilmkan dan dibuatkan video klipnya, dijadikan simulasi dalam pertemuan korban tragedi kekerasan bulan Mei 1998, peringatan hari lahir Pancasila di Taman Ismail Marzuki, dan momen hari buruh memperingati kematian Ruyati, TKW Indonedia yang dipancung di Arab Saudi. Lebih lengkapnya lihat di web resmi www.puisi-esai.com.
Sebagaimana diungkapkan oleh Denny JA dalam pengantar bukunya, sebagai penulis ia mencari bentuk lain agar kegelisahan dan komitmen sosialnya sampai ke publik dalam bentuk yang pas. Ia mencari medium baru, medium tulisan yang bisa menyentuh batin manusia, namun pada saat yang sama membuat pembaca mendapatkan pemahaman tentang sebuah isu sosial, walau secuplik. Esai atau makalah atau kolom jelas tidak mengeksplor sisi batin manusia. Sementara puisi yang ada sering tidak dipahami, apatah lagi menyentuh batin. Maka ia mengembangkan medium sendiri yang kemudian disebutnya puisi esai—puisi bercita rasa esai, atau esai yang dituliskan dalam bentuk puisi.
Dalam perkembangannya puisi esai karya Denny JA kemudian ditransformasikan ke dalam banyak bentuk. Selain film pendek dan video klip pembacaannya seperti disebutkan di atas, juga diekspresikan dalam medium teater, lukisan, foto, lagu, dan social movement. Karena karakternya yang sangat dekat dengan social movement itulah maka sejak diterbitkan buku karya Denny JA ini memperoleh perhatian yang luas dari publik dan media.
Selain karya-karya yang disebutkan di atas, Jurnal Sajak yang terbit setiap 3 (tiga) bulan dan diasuh oleh para penyair memuat puisi esai dan mendiskusikan isu puisi esai dalam setiap edisinya. Pada bulan Januari 2013, Dapoer Seni Djogjakarta mementaskan teater Sapu Tangan Fang Yin berdasarkan puisi esai Denny JA.
3. Kepeloporan untuk kerja kemasyarakatan "Indonesia Tanpa Diskriminasi".
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Indonesia Tanpa Diskriminasi
Denny JA mempopulerkan gerakan sosial yang ia beri nama "Gerakan Indonesia Tanpa Diskriminasi". Yang baru dari gerakan ini, Denny JA mengkampanyekan gagasan itu lewat aneka karya budaya : film, puisi, teater, lukisan, foto, lagu dan aneka riset ilmiah. Untuk pertama kalinya dilakukan integrasi antara gerakan budaya dan gerakan sosial. Denny JA rajin mengkampanyekan gagasan itu bahkan lewat iklan layanan publik yang muncul setiap hari di TV nasional sejak Oktober 2012 sampai Juni 2013. Gagasan Indonesia Tanpa Diskriminasi ini dianggap ikut mempengaruhi platform pakta integritas Partai Demokrat yang dibacakan langsung oleh Presiden SBY[29]. Atas kepeloporan Denny JA menggagas dan menggerakkan isu yang strategis namun sensitif soal Indonesia Tanpa Diskriminasi, diawal tahun 2013 Denny JA memperoleh penghargaan Democracy Award dari media Rakyat Merdeka[30] Pada Maret 2012, Denny JA menerbitkan sebuah buku puisi-esai  yang berjudul Atas Nama Cinta. Buku ini memuat kisah diskriminasi dalam berbagai aspeknya, baik berbasis etnis, agama/paham agama, gender, maupun orientasi seksual.
Kepeloporan dalam genre baru sastra ( puisi esai ). Denny JA juga membawa warna baru dalam dunia sastra Indonesia. Ia memperkenalkan sebuah genre yang disebutnya dengan puisi esai. Melalui genre ini Denny JA membawa puisi melampaui peran tradisionalnya karena menjadikan puisi sekaligus punya kekuatan esai, dan menjadikan esai memiliki keindahan puitik. Genre baru puisi esai ini mendapat sambutan luas pro dan kontra. Baru berusia setahun, puisi esai sudah menciptakan begitu banyak followership berupa 8 buku puisi esai. Sebuah jurnal sastra ternama Jurnal Sajak bahkan melombakan penulisan puisi esai setiap tahunnya. Puisi Esai Denny JA sendiri sudah diterjemahkan kedalam aneka seni lain seperti film, teater, lukisan, foto dan lagu .
Sampai tanggal 7 Januari 2013, belum genap 10 bulan sejak diluncurkannya, web www.puisi-esai.com telah diklik lebih dari 7 juta kali (persisnya 7.502.891). Ini menunjukkan betapa puisi kembali dekat dengan khalayak. Publik luas membaca dan merespon puisi dalam waktu cepat dan massif. Dapat diduga bahwa mereka pun sebenarnya akan memberikan respon yang sama kepada puisi lain, asalkan mereka dihidangkan puisi dengan bahasa yang mudah; asalkan mereka disajikan tema yang juga menjadi kegelisahan mereka sendiri; asalkan mereka diberikan pula kemudahan akses untuk membaca puisi itu melalui jaringan yang kini hot, media sosial: twitter, smartphone, internet.
Selain dibuat dalam bentuk film, puisi-puisi esai karya Denny JA dalam buku Atas Nama Cinta juga dibuatkan versi poetry reading-nya dalam bentuk video klip yang melibatkan para sastrawan dan budayawan Putu Wijaya , Sutardji Calzoum Bachri, Niniek L Karim , Sudjiwo Tedjo, dan Fatin Hamama.
Tema-tema puisi esai Denny JA yang sudah difilmkan dan dibuatkan video klipnya, dijadikan simulasi dalam pertemuan korban tragedi kekerasan bulan Mei 1998, peringatan hari lahir Pancasila di Taman Ismail Marzuki, dan momen hari buruh memperingati kematian Ruyati, TKW Indonedia yang dipancung di Arab Saudi. Lebih lengkapnya lihat di web resmi www.puisi-esai.com.
Sebagaimana diungkapkan oleh Denny JA dalam pengantar bukunya, sebagai penulis ia mencari bentuk lain agar kegelisahan dan komitmen sosialnya sampai ke publik dalam bentuk yang pas. Ia mencari medium baru, medium tulisan yang bisa menyentuh batin manusia, namun pada saat yang sama membuat pembaca mendapatkan pemahaman tentang sebuah isu sosial, walau secuplik. Esai atau makalah atau kolom jelas tidak mengeksplor sisi batin manusia. Sementara puisi yang ada sering tidak dipahami, apatah lagi menyentuh batin. Maka ia mengembangkan medium sendiri yang kemudian disebutnya puisi esai—puisi bercita rasa esai, atau esai yang dituliskan dalam bentuk puisi.
Dalam perkembangannya puisi esai karya Denny JA kemudian ditransformasikan ke dalam banyak bentuk. Selain film pendek dan video klip pembacaannya seperti disebutkan di atas, juga diekspresikan dalam medium teater, lukisan, foto, lagu, dan social movement. Karena karakternya yang sangat dekat dengan social movement itulah maka sejak diterbitkan buku karya Denny JA ini memperoleh perhatian yang luas dari publik dan media.
Selain karya-karya yang disebutkan di atas, Jurnal Sajak yang terbit setiap 3 (tiga) bulan dan diasuh oleh para penyair memuat puisi esai dan mendiskusikan isu puisi esai dalam setiap edisinya. Pada bulan Januari 2013, Dapoer Seni Djogjakarta mementaskan teater Sapu Tangan Fang Yin berdasarkan puisi esai Denny JA